Tampilkan postingan dengan label Radar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

Teori Hilangnya MH370



Sejak menghilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 pada 8
Maret dinihari lalu, sejumlah spekulasi serta teori berkembang di kalangan para pakar maupun masyarakat. Di antaranya masuk akal, namun tidak sedikit yang tak beralasan.

Kantor berita Amerika Serikat, Associated Press seperti dikutip media Malaysia New Straits Times, merangkum tujuh teori yang mengemuka dan dinilai beralasan serta masuk akal terkait hilangnya MAS MH370.

Teori pertama menyebut bahwa MH370 hilang akibat aksi jahat pilot. Teori tersebut mencuat karena diketahui transponder pesawat tiba-tiba berhenti mengirimkan sinyal ke pengandali lalu lintas udara. Kemudian diketahui pesawat berbalik dari jalur yang seharusnya selama beberapa jam setelah transponder mati. Selain itu, sejumlah kunci komunikasi dan perangkat pelacakan yang berada dalam kokpit juga dinonaktifkan. Hal ini menempatkan kecurigaan pada sang pilot.

Menyusul teori itu, tim investigasi yang  mencari dan mempelajari latar belakang pilot pesawat, Kapten Zaharie Ahmad Shah (53) yang telah menerbangkan pesawat untuk MAS sejak tahun 1981. Latar belakang co-pilot Fariq Abdul Hamid (27) yang baru saja menerbangkan pesawat berjenis Boeing 777 itu juga ikut diselidiki. Tim investigasi
bahkan kemudian menelusuri simulator penerbangan yang dimiliki Kapten
Zaharie. Mereka juga menginvestigasi sejumlah file yang pernah dihapus dari simulator tersebut.

Gagasan bahwa pilot menggunakan pesawat untuk bunuh diri atau melakukan pembunuhan massal merupakan hal yang tabu dalam industri penerbangan. Namun ada sejumlah kecelakaan pesawat yang diduga sengaja dilakukan oleh pilot, seperti kecelakaan SilkAir tahun 1997 dan kecelakaan EgyptAir tahun 1999.

Teori kedua adalah aksi pembajakan teroris. Teori ini telah muncul pada awal hilangnya pesawat, menyusul ditemukannya dua warga Iran yang ikut dalam penerbangan menggunakan paspor curian. Namun tim investigasi tidak menemukan kaitan kedua orang tersebut dengan kelompok teror. Keduanya diduga hanya berkaitan dengan migrasi ilegal ke Eropa.

Bukan itu saja, sejak peristiwa pembajakan pesawat Amerika Serikat atau 9/11 tahun 2001 lalu, pengamanan ruang kokpit semakin diperketat, baik melalui sistem, ataupun protokol pengamannya.Namun bukan berarti orang yang tak berkepentingan tak bisa masuk ke dalam kokpit pesawat. Pasalnya, menyusul hilangnya MH370, seorang wanita mengaku pernah diundang ke dalam ruang kokpit selama penerbangan oleh co-pilot Fariq Abdul Hamid yang sekarang ikut dalam MH370 yang hilang.

Wanita tersebut bahkan menasir fotonya bersama co-pilot ketika berada dalam ruang kokpit. Teori ketiga menyebutkan bahwa mungkin saja terjadi bencana secara
tiba-tiba, seperti bom dalam penerbangan atau kesalahan teknis di dalam mesin atau badan pesawat yang menyebabkan pesawat tiba-tiba hancur.

Namun, bila hal tersebut terjadi, maka puing-puing pesawat akan dapat ditemukan di titik di mana transponder baru mati. Apalagi, pesawat Boeing 777 juga hanya memiliki satu catatan kecelakaan dalam 19 tahun sejarahnyam yakni kecelakaan Asiana Airlines di San Francisco pada tahun lalu.

Teori keempat adalah adanya api atau kebakaran listrik. Kebakaran bisa terjadi akibat adanya barang bawaan kargo yang berbahaya sehingga memutus jaringan komunikasi pesawat secara seketika. Jika ini terjadi, kru pesawat masih memiliki waktu untuk memasuki kokpit dan mengambil kendali pesawat.

Teori kelima adalah terjadinya dekompresi dalam pesawat. Dekompresi adalah penurunan tekanan udara dalam kabin pesawat. Dekompresi secara perlahan ataupun tiba-tiba bisa menyebabkan hilangnya oksigen dalam pesawat dan menewaskan semua orang di dalamnya. Logikanya, jika tingkat oksigen menurun, maka pilot akan mendapatkan peringatan otomatis agar mengenakan masker oksigen dan segera
menurunkan pesawat pada ketinggian 10 ribu kaki atau 3.050 meter di mana terdapat tingkat oksigen yang cukup untuk bernafas tanpa bantuan.

Teori keenam menyebut bahwa pesawat telah mendarat di suatu tempat dan bersembunyi yang bisa saja terjadi bila seseorang dengan motif tertentu mendaratkan pesawat ke suatu landasan terpencil dan bersembunyi.

Namun untuk mendaratkan pesawat penumpang ke bandara kecil tanpa alat bantu navigasi yang normal membutuhkan keahlian yang sangat tinggi. Teori tersebut berkembang dan menyebut bahwa pesawat bisa saja diam-diam membayangi pesawat lainnya untuk menghindari deteksi radar militer negara-negara yang dilintasinya.

Teori terakhir adalah penembakan pesawat secara tiba-tiba. Menurut catatan sejarah. Pesawat sipil pernah sengaja ditembak jatuh oleh militer suatu negara. Pada Juli 1988, rudal penjelajah Angkatan Laut Amerika Serikat USS Vincennes sengaja ditembakkan untuk menjatuhkan pesawat Iran Air dan menewaskan total 290 orang yang berada di
dalamnya.

Kemudian pada September 1983, pesawat Korean Air Lines juga pernah ditembak jatuh oleh jet tempur Rusia. Namun untuk MAS MH370, hingga saat ini belum ditemukan adanya bukti bahwa pesawat telah jatuh karena ditembak.

sumber: google.com 

Senin, 20 Januari 2014

Australia, Harga Sebuah Kata Maaf

Australia bersumpah tak lagi usik wilayah RI

Pemerintah Australia pada Sabtu (18/1/2014), bersumpah tidak akan ada lagi pelanggaran wilayah perairan Indonesia dalam operasi penanganan para pencari suaka.

”Kami tidak akan lagi melihat pelanggaran yang disengaja di perairan teritorial Indonesia, kami telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan hal itu tidak terjadi lagi,” kata Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop kepada wartawan di Perth.

Pelanggaran wilayah Indonesia yang dilakukan kapal-kapal pasukan Angkatan Laut (AL), telah membuat Pemerintah Indonesia marah. Departemen Politik, Hukum dan Keamanan Indonesia, menyebut, pelanggaran wilayah itu masalah serius dalam hubungan bilateral kedua negara.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia menuntut klafirikasi resmi dari Pemerintah Australia atas pelanggaran wilayah itu. Selain itu, Indonesia juga menuntut jaminan, bahwa insiden serupa tidak akan terjadi lagi di masa mendatang.

”Kami menyambut kerja sama dari Indonesia dalam berpatroli di perairan, untuk melawan kapal-kapal penyelundup manusia,” ujar Bishop.”Ini adalah kepentingan kami untuk menghentikan kejahatan perdagangan manusia,” lanjut dia, seperti dikutip AFP.

Australia, Harga Sebuah Kata Maaf

Hubungan bilateral Indonesia- Australia yang merenggang selama tiga bulan terakhir ini semakin terasa panas dengan sikap arogansi negeri eropa yang terdampar di benua selatan itu. Australia telah melanggar batas perairan Indonesia tanggal 6 Januari 2014 ketika mengusir manusia perahu yang hendak “berkunjung tetap” ke negeri kanguru itu. Kapal angkatan laut mereka telah masuk sampai 7 mil dari batas garis pantai pulau Rote NTT ketika mendepak pencari suaka sekalian menghina TNI yang dikatakan tak sanggup menjaga wilayahnya sendiri.

Perlakuan Australia yang bergaya cowboy termasuk menyiksa manusia perahu yang memang sudah tersiksa dinegeri asalnya, dinilai sangat keterlaluan. Dunia yang memberi penilaian itu. PBB bahkan sudah memperingatkan Australia akan konsekuensi hukum internasional atas perlakuan tidak manusiawi dan mengabaikan keselamatan pengungsi politik itu yang hendak mencari kehidupan baru di negeri selatan itu. Australia akhirnya dipermalukan sendiri oleh tindakan semena-mena aparat militernya yang justru menampar wajah diplomatiknya di dunia internasional.

Permintaan maaf tanpa syarat Australia ke Indonesia atas pelanggaran teritori perairan Indonesia tanggal 17 Januari 2014 sejatinya disebabkan oleh ketakutan Australia akan tuntutan hukum internasional yang diajukan Indonesia. Australia jelas melanggar konvensi hukum laut internasional karena oleh sebuah sebab non navigasi seenaknya saja mengacak-acak teritori perairan Indonesia untuk mengembalikan manusia perahu yang datang dari wilayah Indonesia. Belum lagi menyiksa beberapa pengungsi yang sudah tersiram gelombang laut dan terombang-ambing. Jelas-jelas melanggar HAM.

TNI AL sudah mengirimkan sejumlah KRI ke wilayah depan Darwin dan melakukan patroli lebih ketat. Satu fregat telah disiagakan di Kupang. Lantamal Kupang yang sudah diresmikan beberapa tahun yang lalu selayaknya tersedia minimal 3 Korvet dan 1 Fregat. Hanya kapal-kapal yang berjenis kelamin seperti ini yang pantas mengawal laut dalam di selatan Indonesia. Indonesia memiliki puluhan kapal perang striking force mulai dari Ahmad Yani Class, Diponegoro Class, Parchim Class, Fatahillah Class.

Seandainya Tony Abbott Nopember 2013 lalu bisa menurunkan tensi arogansinya dalam etika pergaulan dengan negara kultur timur seperti Indonesia dan minta maaf, rangkaian cerita kalangkabutnya dia menghadapi pengungsi perahu tidak sampai mempermalukan dirinya di mata Internasional. Untuk urusan sadap menyadap dia gengsi untuk minta maaf padahal jelas nyata. Tetapi ketika dia terjebak dalam permainan manuver yang sok pamer kekuatan militer lalu seenaknya melanggar wilayah negara lain, muncul ketakutan pada bayangan sendiri lalu minta maaf tanpa syarat kepada Indonesia.

Di satu sisi Australia sangat mahal untuk meminta maaf demi gengsi bertetangga tetapi ketika dunia internasional mulai menuding dan mencela perilaku aparat militernya, buru-buru minta maaf. Ironinya lagi pada tanggal yang sama 17 Januari 2014 Australia juga membatalkan keikutsertaannya dalam latihan angkatan laut gabungan dengan 17 negara lain yang disebut Naval Exercise Komodo dimana Indonesia menjadi tuan rumah. Latihan 18 negara itu mengambil area di perairan Natuna dan Laut Cina Selatan yang akan berlangsung Maret sd April tahun ini.

Pelajaran dari semua keangkuhan dan gaya ambigu Australia ini adalah dengan memperkuat terus menerus angkatan laut dan udara RI. Kita bersetuju dengan adanya penambahan kapal selam Kilo dan pengadaan jet tempur Sukhoi SU35. Untuk laut selatan memang diperlukan kehadiran KRI berkualifikasi korvet dan fregat untuk mengimbangi arogansi militer negeri bule itu. Diluar pengadaan kapal PKR 10514 yang sedang dibuat di Belanda dan menunggu kehadiran 3 kapal perang “Bung Tomo Class” yang masih didandani di Inggris, kita masih perlu tambahan kapal fregat. Untuk menjaga laut dalam dan gaya bertetangga negeri selatan atau jiran yang suka mengklaim kita perlu sedikitnya tambahan 6-8 fregat selain yang disebut diatas.

Kita memang harus berhitung cermat dengan Australia. Kita tetap menjaga hubungan diplomatik yang saling menghargai. Namun kalau tetangga tetap bergaya arogan, suka mendikte kita pun perlu tunjukkan nilai kita di depan dia. Nilai itu adalah tetap menjaga sapa dan santun tapi juga acuh. Ketika keacuhan itu baru berlangsung 3 bulan, ternyata kawan di sebelah selatan itu kalangkabut juga sebab teman pintu asianya tutup pintu dan hanya membuka jendela.

Lalu yang jadi sasaran amuknya ya si pengungsi tadi, lalu masuk halaman rumah orang lain untuk memancing kemarahan. Tapi yang punya halaman tak terpancing karena ini bagian dari ritme kecerdasan diplomatik. Akhirnya dunia yang mencibirnya, PBB mengancamnya, mukanya tertampar, sakitnya tak seberapa tapi malunya ini. Itulah harga sebuah kata maaf yang tak terucap di awal kisah dan membawa negerinya menjadi terisolasi bersama pengungsi. Dan kita pun tetap cuek bebek saja, bukankah begitu pak Marty ?


Sumber: TSM, Sindonews